Khanif Secuil Kisah Si Pemuda Desa
Perjalanan ini sama sekali ga
saya rencanakan,semua mengalir begitu saja,ini
semua diawali saat saya berkenalan dengan seorang kawan ketika berada
dalam bis antar kota dan propinsi,karna ada keperluan saya diharuskan untuk
datang ke sanak family yang jarak nya memakan waktu sekitar 8 jam jika
perjalanan itu normal,walau nyata nya saya duduk di dalam bis lebih dari 12
jam,cukup melelah kan memang
Tapi rasa lelah akibat terlalu
lama duduk dalam bus terbayar ,akhir nya saya berkunjung ke daerah kawan yang
baru saya kenal itu,rumah nya tidak terlalu jauh dengan sanak yang saya
kunjungi,yang sebetul nya jika dari arah jakarta justru kawan itulah yang turun
duluan,selang 40 menit baru lah saya bilang kepada supir agar berhenti tepat di
tempat yang hampir saya lupa
Acara mengunjungi sanak kelar
sudah, saya tidak mau membuang waktu
berlama lama,walau sebetul nya ingin menginap barang beberapa malam,tapi
mengingat waktu yang saya punya cukup sempit ,mau tidak mau saya harus
menggunakan sebaik mungkin
Tiba di rumah sanak sekitar jam
9,30 pagi ucap salam ,basa basi bilang ini itu,makan ,mandi dan sebentar
istirahat,jam 4 sore saya sudah bersiap meninggalkan desa tersebut,khawatir
sampai desa kawan matahari keburu tenggelam,dan menghindar nyasar juga
Jam 6 sore diajak nya saya
sedikit keliling desa dan berkenalan dengan beberapa anak muda
setempat,rasa nya seperti ketemu kawan
lama,tidak ada rasa canggung sedikit pun,semua begitu hangat suasana nya,diajak
nya pula saya makan malam bersama di
salah satu rumah teman nya teman
Sore nya kami banyak bertukar
cerita kehidupan dengan nya,kami saling saling mendengar kan dan berbagi komen
Hmm ada banyak kisah yang
menginspirasi dari kisah kawan tersebut,yups pemuda desa ini mempunyai cita
cita yang tidak begitu tinggi sebetul nya,tapi cara dia menjalani hidup dalam
keseharian cukup menggugah semangat saya,kalau boleh dibilang,masih belum
separuh nya dari semangat yang dimiliki
Pemuda ini kerja pada sebuah
perpustakaan dan menjadi guru honorer pada sebuah sdn negri di desa tersebut,dengan gaji 200 ribu perbulan tapi tidak
membuat nya berkecil hati,justru dia berusaha apapun yang dikerjakan asalkan halal
dan bisa dilakukan pasti dilakukan,
Dia bukan lah anak yang
berada,bapak nya hanya seorang pensiuanan
PNS dengan jabatan biasa,dan kini hanya sebagai petani di rumah,ibu nya juga yang bekerja sebagai
petani ,wlau begitu orang tua nya ingin anak nya mempunyai cita cita,tetap
menyemangati anak anak nya yang berkeinginan sekolah
Rumah nya juga tidak mewah,setiap
sore bapak nya menjadi guru ngaji pada mushola kecil yang bersebalahan dengan
rumah nya,dalam rumah pun masih berubin tanah,berpintu yang sudah terlihat
usang,,,
Keluarga nya begitu welcome
menerima saya sebagai tamu dadakan,walau disajikan dengan menu sederhana,semua
begituterasa nikmat
Anggap saja teman saya bernama si
khanif,sebetul nya khanif sudah banyak bercerita sewaktu dalam perjalanan di
bus ,tapi saya kurang konsen menyimak cerita nya,dikarnakan saya mabuk
perjalanan,perut terasa mual dan pusing,dan apes nya tidak membawa obat dan
minyak angin
Barulah setelah di rumah saya
menyimak cerita nya baik baik
Si khanif sebetul nya ingin
menjadi guru,suatu cita cita yang tidak muluk amat,tapi dengan keadaan ekonomi
seperti itu tentu nya menjadi tantangan tersendiri buat si khanif,gaji 200 ribu
perbulan tentu sangat jauh dari cukup,kasar nya buat beli bensin saja masih
kurang
Khanif saat ini berusia 23 tahun,di
mana kebanyakan anak seusia ini lebih suka berpetualang ke jakarta mencari uang
dan mengadu nasib di ibu kota,memang tidak banyak pemuda desa yang saya temui
di sana,seperti yang di bilang khanif,kebanyakan pemuda desa bekerja di
kota,hanya hitungan jari yang masih di desa,termasuk si khanif sendiri
Untuk memenuhi kebutuhan lain nya
setelah bertugas di perpustakaan khanif melanjutkan pekerjaan nya sebagai
pedagang roti,jam 12 siang khanif pulang bertugas di SD ,istirahat hingga jam 1 lalu melanjutkan pekerjaan nya
sebagai penjual roti,yang untung nya kini sudah banyak langganan khanif,setiap
hari nya hanya menambah dan mengecek ke tiap warung,knanif hanya mengambil
keuntungan 200 rupiah per roti yang dibawa nya
Dengan kranjangan yang sudah
didesain sedemikian rupa tiap hari nya khanif bisa membawa roti sebanyak 400
buah walau tidak semua nya habis ,,menjajakan dari warung ke warung yang juga
jarak nya tidak begitu jauh dari desa khanif,setidak nya 30 ribu bisa didapat
kan khanif dari hasil berjualan ,hingga jam 4 sore khanof sudah kembali ke
rumah nya
Dari uang itulah khanif bisa
mencukupi kebutuhan lain nya,termasuk untuk biaya kuliah,khanif ingin sekali
mengabdi hidup nya menjadi guru,dan untuk itulah ia harus kuliah,sama sekali ga
kepingin untuk mencoba mencari peruntungan di ibu kota
Buat khanif semua itu sudah lebih
dari cukup katanya,yang penting kebutuhan dasar sudah terpenuhi
Kelihatan nya sepele memang,tapi
bagi saya kehidupan khanif sangat lah inspiratif,belum tentu saya bisa seperti
dia,menjadi sales dengan hasil yang tidak seberapa,uang 900 ribu belum lah
cukup buat kebutuhan sehari hari,,tapi seperti itu lah si khanif,,super nrimo
tidak putus asa,di desa nya khanif cukup terkenal,tiap orang yg lewat khanif
selalu mendapat sapaan dengan sebutan pak guru,cukup berwibawa dengan usia
seperti itu
Setelah sarapan pagi disuguhi
dengan soto kebumen buatan ibu nya ,dibawa nya saya ke pantai yang tidak begitu
jauh,tadi nya ada rencana ingin berenang di pantai tersebut,alamaak melihat
ombak yang begitu ganas nya saya urungkan niat untuk mandi dan berenang,ombak
nya begitu ganas dan buas,walau tidak terlalu tinggi,sudah membuat nyali
ciut,terbayang jika sedang asik asik nya bermain air laut tiba tiba datang
ombak menyerat saya ke tengah
Tapi tidak bagi anak anak yang
lain,mereka begitu menikmati acara mandi di pantai,ada juga yang sibuk mencari
undur undur laut,dikumpulkan untuk diolah menjadi masakan,setelah cukup puas
duduk memandangi ombak di pantai saya minta kepada khanif untuk udahan,karna ada orang yang harus saya temui lagi di kota
lain nya
Jam 11 siang saya pamitan ke
keluarga khanif ucap terimakasih atas
sambutan hangat dan hidangan nya dan saya pun meninggalkan desa
tersebut,,perjalanan yang mengesankan,thanks ya khanif dah mau direpotin,,semoga
wisuda nya besok berjalan dengan lancar,ada waktu dan kesempatan insya allah bisa ketemu lagi,ada kesempatan main ke jakarta nanti gantian tak ajak kliling naik bus way hahaha,,,,




Komentar