Ane Orang Jakarte

Jakarta selalu punya cerita,seribu satu macam cerita itu selalu ada ,sedih,senang,mellow,susah,whatever,orang kaya punya cerita sendiri,orang susah punya kisah sendiri,pedagang,pengamen,pekerja kantor,atau pengemis pun juga punya kisah tersendiri,saya pun punya kisah sendiri,,, beberapa hari menginjak tanah jakarta ,tanpa terasa sudah sekian luas wilayah yang sudah terlewati,,apakah saya terlalu lebay ?hehe silakan menilai sendiri,ga ada cerita yang istimewa,karna saya pernah mengalami sebelum nya, ,hanya sekedar sedikit berbagi cerita
Naik Bus Umum Fatmawati adalah tempat di mana sekarang saya mengais rupiah,hanya 50 kilo kurang sekian dari rumah yang terletak di barat jakarta,tidak terlalu jauh sebetul nya,tetapi seperti yang sudah saya tulis di judul sebelum nya ,jarak bukan berarti cepat sampai tujuan,saya harus naik beberapa kali angkutan,yang ukuran kecil hingga bus berukuran besar Dalam perjalanan saya menyaksikan kemacetan di mana mana,naik bus trans jakarta pun tak ubah nya naik angkutan biasa,banyak mobil pribadi,motor ,truk atau bahkan angkutan bukan bus transjakarta pun ikut menikmati jalanan khusus bus way itu,sang sopir pun tak bisa berbuat apa apa,hanya duduk tanpa ekspresi ,seperti nya hal itu bukan kejadian yang aneh,naik busway tapi sama sama ikut menikmati macet,tak ada istimewa,begitu juga kondisi kendaraan dan body sudah tidak sebagus waktu pertama kali ada,padahal belum 10 tahun usia bus,masa kalah sama bus antar provinsi,yang belasan tahun beroperasi tapi body masih terlihat bagus,di bagian dalam sebagian pintu ada yg diikat dengan karet,bila melewati sedikit jalan bergelombang akan mengeluarkan bunyi decitan,lantai yang terlihat kusam,gumpalan tisu dari penumpang tercecer di dalam kabin,. Bus metromini dan kopaja tak ubah nya kaleng krupuk berjalan dengan suara mesin yang sangat bising memekak teliga ,seperti suara mesin di papbrik yang sedang beroperasi,disopiri oleh seorang sopir yang ga selayak nya seorang sopir,pakaian yang lusuh dan itu pun bukan seragam dari mobil yang dikemudikan ,wajah terlihat pucat seperti habis begadang,berhenti menunggu penumpang seenak udel,kadang balapan dengan mobil sesama trayek berebut penumpang,tinggal penumpang nya yang banyak zikir di dalam mobil sambil berpegangan erat di bangku depan nya,agar selamat sampai turun, Dikerneti oleh seorang kernet yang kalau saya bilang lebih cocok seorang preman,ga beda jauh dengan si sopir,berbaju lusuh,tubuh yang terlihat dekil bin kumal,beda nya dengan preman dia suka berteriak teriak sebut jurusan mobil yang dikerneti Pengamen jalanan yg keluar masuk bus bergantian memamerkan suara yang sangat jauh dari pas pasan,bahkan pengamen itu lebih disebut preman karna cara meminta uang suka rela yg sangat memaksa Begitulah situasi setiap hari yang saya lalui,dua sampai tiga jam waktu habis di jalan
DenganMotor
bocor ban di jalan juga hal yang biasa
Karna sering larut malam pulang ,tak ada kendaraan lagi yang membawa saya balik pulang kecuali naik angkutan bukan resmi alias omprengan yang ongkos nya jauh lebih mahal dari angkutan resmi,jam operasional trans jakarta mentok sampai jam 11malam ,maka saya memutuskan untuk membawa motor sendiri,walaupun sim belum saya miliki ,karna sim yang lama sudah expired,
 Disiplin rerata para pengendra masih di bawah standar selama di jalan,benar dan salah tak ada jaminan kita bakal selamat ,yg diperlukan hanya hati hati dan waspada,mereka tidak sabar menunggu pergantian lampu dari merah kehijau.posisi motor berada di garis pembatas lampu merah,seakan siap untuk balapan,bahkan ada juga yang nylonong menabras lampu yang masih merah,sungguh mereka tidak sayang dengan nyawa diri sendiri,pada saat melintasi lampu sedang hijau,sebetul nya saya melewati dengan hati was was,takut kalau masih ada motor atau kendaraan lain yang masih nyelonong,mereka takut nya kepada polisi yang menilang ,bukan kepada nyawa nya sendiri jika sampai kecelakaan
kalo sampe kaya gini baru luar biasa "__"
Saya pun yang berkendara dengan hati hati masih aja kena apes,dibuat bingung dengan mobil yang ingin belok tanpa menyalakan lampu sign hampir saja menghajar dari arah samping ,dan mohon maaf kebun binatang pun isi nya saya absent tanpa sadar,mereka berlomba ingin cepat sampai tujuan,tapi ga memikirkan keselamatan pengguna lain
 Lama kuda besi kesayangan tak pernah kupegang,seperti nya dia sudah tidak kenal dengan pemilik nya,sehari sebelum ku gunakan untuk bertarung di jalan ,dirinya sudah ku operasi,diganti semua bagian yang tidak berfungsi,seperti lampu,aki,speed meter,sensor pada tangki bensin,dan akhir bulan nanti operasi kedua akan dilakukan,tapi si kuda besi rupanya sudah tidak tahan,di tengah jalan rem kaki yg biasa ku injak tidak berfungsi,untung saja pas keadaan macet,pelan pelan aku jalan menepi sambil mencari bengkel ,tak sampai puluhan meter sudah kutemukan bengkel ,sang montir segera mengecek bagian yg bermasalah,oow rupanya besi penarik tuas pada ban blakang sudah lepas,
Add caption
kecelakaan kecil seperti ini sering terjadi
Bawa motor juga harus sedia jas hujan,apalagi cuaca jakarta ga bisa ditebak,walau ada ramalan,kata nya musim panas tapi masih ada hujan,beberapa hari yang lalu tanpa permisi hujan datang dengan sangat deras nya,ku tepikan motor dan ku pakai jas hujan yang tersimpan di bawah jok,tanpa menunggu reda ku jalani motor dengan hati hati,tetapi aneh nya memasuki daerah pesing tidak ada tanda tanda hujan turun,bahkan jalanan terlihat kering,yaah seperti itu jakarta,sering terjadi hujan lokal
Saya pun harus berhati hati dan memperhatikan  jalanan,karna ga semua jalanan itu keadaan nya mulus,masih ada beberapa lubang menganga di beberapa tempat apa lagi jika berjalan di waktu malam,bahkan ada yang tidak rata permukaan jalan,kualitas ban harus sangat diperhatikan,ya seperti
itulah plus dan minus menggunakan motor,tapi buat saya motor masih menjadi solusi agar tidak terjebak macet ( edisi siapa suruh dateng ke jakarta,,, )


( continue )

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skill Tambahan Seorang Chef

Membuat Lasagna

Bagian Ayam yang Sulit Didapat