Kondangan Di Arab VS Kondangan di Jakarta

halaman depan matam
Datang ke undangan salah satu resepsi kawan,baik itu pernikahan,atau sunatan adalah kegiatan yang menyenang kan,di sana kita  menjadi saksi dalam sejarah dalam ritual si empunya hajat,selain itu sebagai alat mempererat silaturahim  menandakan kita sebagai mahluk social,yang punya hajat pun akan senang dengan kedatangan kita,dengan muka bahagia siap menyambut kedatangan setiap tamu undangan

Saya pribadi sebetul nya senang jika harus menghadiri suatu acara yang diadakan kawan,baik itu sunatan atau pernikahan,biasa nya acara hajatan dan sejenis nya jatuh  dimusim menjelang akan puasa,entah lah kenapa begitu yang jelas saya merasakan betul,dalam sebulan saya bisa hadir lebih dari satu ke acara undangan orang umum lebih sering menyebut dengan kata kondangan,kalau sudah lebih dari sekali menghadiri kondangan sedikit agak cengar cengir sendiri,pasal untuk datang ke acara undangan saya tidak datang dengan tangan kosong,ada sesuatu yang harus saya  siapkan ,heheheh,,apalagi kalau bukan fulus,,sejumlah rupiah harus saya masukan dalam amplop ,lalu amplop itu saya simpan dalam kantong celana,dan saya berikan ke pengantin,saat berjabat tangan,sambil mengucap selamat,atau saya masukan ke dalam tabung ajaib yang sudah tersedia di dekat penerima tamu
menu nasi machbos sebagai santapan nya

Nah kalao sudah lebih dari satu undangan yang saya dapatkan ,itu yang membuat serba salah,serba salah dalam artian akan sedikit menggeser pembukuan bulanan,hehe ( so amat yaa ), sebab dana kondangan bukan pengeluaran tetap,sebetul nya ga aturan jumlah berapa yang harus dibungkus amplop,tapi seperti ada peraturan yang bukan tertulis ,mau tidak mau  ya harus seperti itu,seperti ada rasa canggung kalau tidak melakukan,itu tergantung juga seberapa dekat orang mengundang ,teman kerja kah,?sahabat karib kah?atasan yang ngundang kah?tetangga sebelah kah?kah ?kah ?kah ?dan masih banyak kah kah kah yang lain
Saya pribadi tidak berpengaruh dengan banyak nya kah kah tersebut,ada batas minimal yang pantas menurut ketentuan saya sendiri,jadi ga perduli siapa yang mengundang ,dan ga  berharap mereka akan memberikan kembali jika one day saya yang akan mengundang
berpose dengan pengantin lelaki

Dan menurut saya lagi,arti dari kondangan itu sendiri sudah bergeser dari makna sesungguh nya,mohon maaf kalau saya mengatakan seperti itu,acara hajatan atau kenduri baik itu kawinan atau sunatan adalah sejenis acara sukuran atas berlangsung nya acara si empunya,dan ingin berbagi kebahagian dengan orang yang mereka kenal,baik sahabat,sodara sanak dan  family,di sini mereka si empu nya hajat tidak akan memikirkan dana yang akan kembali ,lebih lebih mendapat uang yang jumlah nya lebih dari acara hajatan itu sendiri, bukti kuat saya bisa mengatakan seperti ini,  di kartu undangan si pengundang  tidak risih memberikan note tambahan  (tanpa mengurangi rasa hormat  sebaik nya tidak memberi hadiah dalam bentuk barang ) ,sewaktu kecil,ibu saya suka mengeluh jika menerima banyak undangan,baik itu kawinan atau sunatan,apa pasal,yang mengundang  tidak ada kedekatan dengan yang diundang,mereka datang keundangan karna tetangga yang mengajak ,tetangga itu mengumpulkan sebanyak mungkin orang orang sekitar nya agar bisa menghadiri yang punya hajat ,yang notabene nya tidak mengenal , jadi sangat tidak natural,kejadian ini banyak dan sering kali terjadi di jakarta  ( saya ga tau untuk dilain tempat ),dan ada juga yang punya hajat setelah acara  hajatan selesai malah tambah pusing,dana yang terkumpul tidak mencapai batas minimal pengeluaran,padahal mereka sudah utang sana sini,termasuk ke warung langganan  hahahaha ( ini saksi mata sendiri ),
suasana dihalaman luar

Tapi  di sini di arab  ( Bahrain ) untuk menghadiri acara undangan ,saya tidak perlu pusing ,tidak perlu menyisihkan sejumlah uang kedalam amplop,dan tidak juga pusing mikirin kado,tidak menerima kartu undangan, hanya diberitahu lewat mulut ke mulut,tentu nya yang mengundang kenal betul dengan siapa yang diundang

Acara nya pun bukan di rumah mereka ,ada di sebuah tempat yang disebut matam tempat serba guna ( seperti mushola besar  ) yang biasa nya untuk acara keagamaan ( kebetulan kawan saya beraliran syiah ) ,dan tidak bisa juga melihat pengantin perempuan,jadi tinggal datang mengucapkan selamat dan saya dipersilakan makan,bagi yang muslim diperbolehkan masuk  ke dalam matam,bagi yang non muslim si pengantin lelaki yang akan menemui keluar,salaman dan sipersilakan makan
Makanan pun seadanya,maksud nya terbilang sederhana,tidak ada makanan menu modern,hanya berupa nasi macbos,sejenis nasi beriyani,air mineral,dan buah seperti pisang atau jeruk,dan dimakan tidak menggunakan sendok,tapi menggunakan tangan,sangat sederhana,dan saya menikmati kesederhanaan tersebut

Acara seperti ini banyak dilakukan oleh orang arab yang memang kehidupan nya tidak terlalu mewah,kebanyakan masyarakat umum nya,mungkin lain lagi jika mempunyai dana tersendiri,dan sudah tersentuh oleh gaya modern kehidupan nya,ya kembali lagi ke orang tersebut,gaya hidup,pendidikan ,kehidupan sosial akan menentukan , dan itu hanya buat kalangan tertentu,tapi pada umum nya seperti itu

Jadi di arab sini,kondangan menghadiri acara perkawinan tidak perlu memikirkan ini dan itu,cukup berpakian yang sopan dan rapi,dan silakan menikmati makanan yang tersedia,hahaha




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skill Tambahan Seorang Chef

Membuat Lasagna

Bagian Ayam yang Sulit Didapat